03 September 2007

Kisah Icha

Dear friends,
Kadang kala kenyataan bertolak belakang dengan apa yang sesungguhnya kita harapkan. Dan kadang juga justru kita mendapatkan sesuatu yang sama sekali tak pernah terbesit dalam benak kita. Yeah!hidup memang harus bijaksana.
Panggil saja aku, Icha... Aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Sesuai janji orang tuaku, aku diperbolehkan memilih sesuka hati sekolah mana yang aku inginkan jika aku memperoleh nilai ujian terbaik untuk kelulusan tahun ini. Demi menggapai cita-citaku maka akupun menuruti keinginan kedua orang tuaku. Aku belajar dengan penuh kesungguhan sampai akhirnya hari ujian pun tiba.
Sambil menanti masa pengumuman kelulusan, aku mulai mencari informasi di sekolah yang aku inginkan. Aku memutuskan masuk ke sekolah menengah atas(SMA) dan mengambil jurusan IPA karena aku bercita-cita menjadi dokter. Aku menyampaikan keinginanku itu pada kedua orang tuaku, Alhamdulillah...mereka setuju.
Hari yang aku tunggu pun tiba. Aku terlonjak gembira karena impianku untuk menjadi lulusan terbaik tahun ini terwujud. Terbayang di pelupuk mata kelak aku akan menggapai cita-citaku. Keesokan harinya, aku minta izin pada orang tuaku untuk mendaftar di sekolah yang pernah aku kunjungi. Tapi....mendadak dunia tak bersahabat. Entahlah apa yang membuat orang tuaku berubah pikiran sehingga memaksaku untuk bersekolah di sekolah khusus wanita! Padahal itu sangat bertolak belakang dengan karakterku yang tomboy. Aku kaget bukan kepalang. Mana mungkin aku sanggup menggeluti dunia yang belum pernah aku jamah sama sekali! Aku memang wanita, namun aku tumbuh dengan sosok kelaki-lakian. Teman-temanku kebanyakan laki-laki. Begitupun di keluargaku.
Aku tak mampu mengelak dari kenyataan ini. Bagaimanapun gigihnya aku memburu cita-cita, tak mungkin mengalahkan cinta pada orang tua. Awal perjalanan, aku mencoba tegar menghadapi lingkungan sekolahku, yang penghuninya notabene sangat feminim. Aku harus belajar masak, berdandan, sampai cara berjalan dan bertingkah laku. Meski segala daya upaya berusaha mengubah pribadiku, tapi karakterku tak akan bisa berubah. Aku tetap menjadi sosok wanita yang keras hati dan kuat. Pada akhirnya pun aku adalah figur yang serba bisa. Nah, justru hal yang kubenci itulah mengantarkan aku pada gemilang kesuksesan.
So, Friends..... sesungguhnya apapun yang kita dapat pasti yang terbaik...

Dariku Icha

Diary Marsha

Dear diary...

Melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Harusnya sungguh-sungguh belajar dari segala sesuatu yang didengar, dilihat, dan dirasakan hingga ke lubuk hati yang paling dalam. Menatap apapun pada jarak yang lebih dekat adalah sebuah kebijaksanaan dan kebijaksanaan bukanlah pandangan sesaat dari apa yang dihadapi.
Sebut saja dia,David, teman sekelasku. Seorang pelajar SMP yang terkenal bengal dan urakan. Anaknya pendiam dan tak pernah tersenyum. Namun dia sangat ditakuti teman-temanku karena kebolehannya "memukul" orang. Bisa dibilang dia Preman Sekolah. Jika kamu pernah singgah di kawasan rel kereta api kota Slawi maka kamu akan menjumpai beberapa preman yang biasa mangkal, nah mereka itulah teman-teman karib David.
Di sekolah, David tak pernah mendapat peringkat lebih dari sepuluh besar. Yeah!dia sebenarnya pandai. Hanya saja aku tak menyukai tingkahnya yang angkuh dan kasar pada perempuan. Temanku, Nia, pernah ditamparnya.
Suatu kali... dia curang bermain basket. Dia menendang kaki lawan mainnya saat hendak memasukan bola ke dalam keranjang basket. Tak ayal keributan pun terjadi. Akhirnya, mau tidak mau, sebagai ketua OSIS aku pun turun tangan. Aku seret dia masuk ke kelas. Di kelas aku bertengkar hebat dengannya. Yang membuatku heran dia tak melawan atau memukulku!sama sekali! Padahal dia anak yang sangat sensitif. Sejak peristiwa itu David tak mau lagi bermain basket.
Tahukah Dy...semburat sesal tiba-tiba menghujamku. Aku jadi merasa bersalah karena membuatnya jera bermain basket, bahkan mengundurkan diri dari jabatan kapten basket! Aku memutuskan mendekatinya, meski aku ragu. Ternyata gayung pun bersambut, aku berhasil membujuknya bermain basket lagi, kali ini dia berjanji tidak akan curang lagi.
Hari berganti sangat cepat. Perubahan total nampak pada diri David. Dia tak sebrutal atau seangkuh dahulu. Sekarang dia seringkali melemparkan senyumnya yang kata teman-teman misterius. Dia pun lebih respect dan terkesan mengakrabiku.
Suatu siang menuai seonggok kejutan. David menyerahkan sepucuk surat padaku. Dia menyuruhku membaca saat itu juga. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Entahlah apa isi surat itu...Perlahan aku membukanya. Tiba-tiba darahku terkesiap! serangkai kalimat menoreh sebuah rasa di hatiku. I LOVE YOU. Hanya itu yang dia tulis! Bagai tersambar petir di tengah panasnya mentari, bibirku beku tak mampu berucap apapun. Yang kusadar saat ini adalah PREMAN JUGA PUNYA CINTA.

Kupersembahkan toek sahabat terbaikku.

31 Agustus 2007

sebuah catatan

Dear pembaca,
Kehidupan memang penuh misteri. Adakalanya tak pernah terkuak hingga nafas sampai ke ubun-ubun. Namun ada pula yang tersingkap lebih cepat dari yang kita harapkan. Barangkali pelik telah menyelubung pada memoar kisah sehingga kadang kita tak kuasa menahan badai.

Maka itu kekuatan terbesar dalam diri kita adalah cinta pada Sang Khalik.