03 September 2007

Diary Marsha

Dear diary...

Melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Harusnya sungguh-sungguh belajar dari segala sesuatu yang didengar, dilihat, dan dirasakan hingga ke lubuk hati yang paling dalam. Menatap apapun pada jarak yang lebih dekat adalah sebuah kebijaksanaan dan kebijaksanaan bukanlah pandangan sesaat dari apa yang dihadapi.
Sebut saja dia,David, teman sekelasku. Seorang pelajar SMP yang terkenal bengal dan urakan. Anaknya pendiam dan tak pernah tersenyum. Namun dia sangat ditakuti teman-temanku karena kebolehannya "memukul" orang. Bisa dibilang dia Preman Sekolah. Jika kamu pernah singgah di kawasan rel kereta api kota Slawi maka kamu akan menjumpai beberapa preman yang biasa mangkal, nah mereka itulah teman-teman karib David.
Di sekolah, David tak pernah mendapat peringkat lebih dari sepuluh besar. Yeah!dia sebenarnya pandai. Hanya saja aku tak menyukai tingkahnya yang angkuh dan kasar pada perempuan. Temanku, Nia, pernah ditamparnya.
Suatu kali... dia curang bermain basket. Dia menendang kaki lawan mainnya saat hendak memasukan bola ke dalam keranjang basket. Tak ayal keributan pun terjadi. Akhirnya, mau tidak mau, sebagai ketua OSIS aku pun turun tangan. Aku seret dia masuk ke kelas. Di kelas aku bertengkar hebat dengannya. Yang membuatku heran dia tak melawan atau memukulku!sama sekali! Padahal dia anak yang sangat sensitif. Sejak peristiwa itu David tak mau lagi bermain basket.
Tahukah Dy...semburat sesal tiba-tiba menghujamku. Aku jadi merasa bersalah karena membuatnya jera bermain basket, bahkan mengundurkan diri dari jabatan kapten basket! Aku memutuskan mendekatinya, meski aku ragu. Ternyata gayung pun bersambut, aku berhasil membujuknya bermain basket lagi, kali ini dia berjanji tidak akan curang lagi.
Hari berganti sangat cepat. Perubahan total nampak pada diri David. Dia tak sebrutal atau seangkuh dahulu. Sekarang dia seringkali melemparkan senyumnya yang kata teman-teman misterius. Dia pun lebih respect dan terkesan mengakrabiku.
Suatu siang menuai seonggok kejutan. David menyerahkan sepucuk surat padaku. Dia menyuruhku membaca saat itu juga. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Entahlah apa isi surat itu...Perlahan aku membukanya. Tiba-tiba darahku terkesiap! serangkai kalimat menoreh sebuah rasa di hatiku. I LOVE YOU. Hanya itu yang dia tulis! Bagai tersambar petir di tengah panasnya mentari, bibirku beku tak mampu berucap apapun. Yang kusadar saat ini adalah PREMAN JUGA PUNYA CINTA.

Kupersembahkan toek sahabat terbaikku.